Raja'

Pendahuluan
Kewajiban orang berakal dan bermata hati yang menginginkan
keselamatan
bagi dirinya adalah tidak bersikap berlebih-lebihan dalam berharap-harap
(yakni hanya bersandar pada rahmat Allah saja). Sebagaimana juga jangan
sampai ia benputus asa untuk mendapatkan rahmat Allah. Karena berputus asa
dan rahmat Allah adalah salah satu dosa besar. Allah berfirman:
"Dan jangan kamu berputus asa dan nahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dan rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf: 87)
Justru kewajiban manusia adalah menempatkan dirinya antara khauf dan
raja'. Diriwayatkan dengan shahih dan Rasulullah ~ bahwa beliau pemah
menemui seorang lelaki yang berada dalam kondisi hampir mati. Beliau
bertanya: "Bagaimana kondisi jiwamu sekarang ini?" lelaki itu menjawab:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berharap-harap kepada Allah, namun aku
juga takut karena dosa-dosaku." Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda: "Setiap dua rasa itu berkumpul dalam hati seorang hamba
pada saat seperti sekarang ini, pasti Allah akan memberikan kepadanya apa
yang dia harapkan dan memberikan rasa aman kepadanya dari apa yang dia
takutkan." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan Imam Nawawi berkata: "Sanad
hadits ini hasan.")
bagi dirinya adalah tidak bersikap berlebih-lebihan dalam berharap-harap
(yakni hanya bersandar pada rahmat Allah saja). Sebagaimana juga jangan
sampai ia benputus asa untuk mendapatkan rahmat Allah. Karena berputus asa
dan rahmat Allah adalah salah satu dosa besar. Allah berfirman:
"Dan jangan kamu berputus asa dan nahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dan rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf: 87)
Justru kewajiban manusia adalah menempatkan dirinya antara khauf dan
raja'. Diriwayatkan dengan shahih dan Rasulullah ~ bahwa beliau pemah
menemui seorang lelaki yang berada dalam kondisi hampir mati. Beliau
bertanya: "Bagaimana kondisi jiwamu sekarang ini?" lelaki itu menjawab:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berharap-harap kepada Allah, namun aku
juga takut karena dosa-dosaku." Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda: "Setiap dua rasa itu berkumpul dalam hati seorang hamba
pada saat seperti sekarang ini, pasti Allah akan memberikan kepadanya apa
yang dia harapkan dan memberikan rasa aman kepadanya dari apa yang dia
takutkan." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan Imam Nawawi berkata: "Sanad
hadits ini hasan.")
A.
Definisi
Kata raja’
berasal dari bahasa Arab yang artinya harapan. Maksud raja’ pada pembahasan ini
adalah mengharapkan keridhaan Allah SWT dan rahmat-Nya. Rahmat adalah segala
karunia dari Allah SWT yang mendatangkan manfaat dan nikmat.
Raja’
termasuk akhlakul karomah terhadap allah SWT yang manfaatnya dapat mempertebal
iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seorang muslim/muslimah yang
mengharapkan ampunan Allah berarti ia mengakui bahwa Allah itu maha pengampun.
Kebalikan
dari sifat raja’ adalah berputus harapan terhadap ridha dan rahmat Allah SWT.
Orang yang berputus harapan terhadap Allah, berarti ia berprasangka buruk
kepada Allah SWT, yang hukumnya haram dan merupakan ciri dari orang kafir.
Muslim/muslimat
yang bersifat raja’ tentu dalam hidupnya akan bersikap optimis, dinamis,
berfikir kritis dan mengenal diri dalam mengharapkan keridhaan Allah SWT.

Artinya :
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al Kahfi : 110)
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al Kahfi : 110)
B. Sifat Sifat Raja’
1. Optimis
Dalam
kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud optimis adalah
orang yang selalu berpengharapan (berpandagan) baik dalam menghadap segala hal
atau persoalan, misalnya :
-
seorang siswa/siswi yang mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) dia
berharap akan lulus dan diterima di perguruan tinggi yang ia pilih.
-
Seseorang ingin bekerja di sebuah perusahaan swasta, kalau ia berfikir optimis,
tentu dia akan berusaha mengajukan lamaran dan berharap agar lamaran diterima
serta dapat bekerja di perusahaan tersebut.
Kebalikan
dari sikap optimis adalah sifat pesimis. Sifat pesimis dapat diartikan
berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Seseorang yang pesimis biasanya selalu
khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian atau bencana, sehingga
ia tidak mau berusaha untuk mencoba.
2. Dinamis
Kata
dinamis berasal dari bahasa Belanda “dynamisch” yang berarti giat bekerja,
tidak mau tinggal diam, selalu bergerak, dan terus tumbuh. Dia akan terus
berusaha secara sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas dirinya ke arah
yang lebih baik dan lebih maju, misalnya :
-
Seorang petani akan berusaha agar hasil pertaniannya meningkat
-
Seorang pedagang akan terus berusaha agar usaha dagangnya berkembang.
Kebalikan
dari sifat dinamis ialah statis. Sifat statis harus dijauhi oleh setiap
muslim/muslimat karena termasuk akhlak tercela yang dapat menghambat kemajuan
dan mendatangkan kerugian.
3. Berfikir kritis
Dalam
kamus bahasa Indonesia dijelaskan bahwa berfikir kritis artinya tajam dalam
menganalisa, bersifat tidak lekas cepat percaya, dan sikap selalu berusaha
menemukan kesalahan, kekeliruan, atau kekurangan. Orang yang ahli mmeberi
kritik atau memberi pertimbangan apakah sesuatu itu benar atau salah, tepat
atau keliru, sudah lengkap atau belum disebut kritikus.
Kritik
ada dua macam yaitu yang termasuk akhlak terpuji dan yang tercela. Pertama ,
kritik yang termasuk akhlak terpuji yaitu kritik yang sehat, yang didasari
dengan niat ikhlas karena Allah SWT, tidak menggunakan kata-kata pedas yang
menyakitkan hati, dan dengan maksud untuk mmeberikan pertolongan kepada orang
yang dikritik agar menyadari kesalahan, kekeliruan dan kekurangannya, disertai
dengan memberikan petunjuk tentang jalan keluar dari kesalahan, kekeliruan dan
kekurangannya tersebut.
4. Mengenali diri dengan mengharapkan ridho Allah
SWT
Seorang
muslim yang mengenali dirinya tentu akan menyadari bahwa dirinya adlah makhluk
Allah, yang harus selalu tunduk pada ketentuan-ketentuan-Nya (sunnatullah).
Iapun menyadari tujuan hidupnya adalah memperoleh ridha Allah, sehingga
hidupnya diabdikan untuk menghambakan diri hanya kepada-Nya dengan cara
melaksanakan perintah-perintahnya dan meninggalkan semua larangan-Nya
C.
Peranan Raja'
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Ketahuilah sesungguhnya
penggerak hati menuju Allah 'azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta),
Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa' (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah
mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu
dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia
maupun di akhirat. Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di
akhirat (bagi orang yang masuk surga, pent). Allah ta'ala berfirman (yang
artinya), "Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa
takut dan sedih yang akan menyertai mereka." (QS. Yunus: 62) Sedangkan
rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba)
tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor
yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang
dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada
kuat-lemahnya rasa cinta.
D. Raja' yang terpuji
Syaikh
Al 'Utsaimin berkata: "Ketahuilah, roja' yang terpuji hanya ada pada diri
orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya atau bertaubat
dari kemaksiatannya dan berharap taubatnya diterima, adapun roja' tanpa
disertai amalan adalah roja' yang palsu, angan-angan belaka dan tercela."
(Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)
E. Raja' adalah ibadah
Allah
ta'ala berfirman yang artinya, "Orang-orang yang diseru oleh mereka itu
justru mencari jalan perantara menuju Rabb mereka siapakah di antara mereka
yang bisa menjadi orang paling dekat kepada-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya
dan merasa takut dari siksa-Nya." (QS. al-Israa': 57) Allah menceritakan
kepada kita melalui ayat yang mulia ini bahwa sesembahan yang dipuja selain
Allah oleh kaum musyrikin yaitu para malaikat dan orang-orang shalih mereka
sendiri mencari kedekatan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan
ibadah, mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan diiringi harapan
terhadap rahmat-Nya dan mereka menjauhi larangan-larangan-Nya dengan diiringi
rasa takut tertimpa azab-Nya karena setiap orang yang beriman tentu akan merasa
khawatir dan takut tertimpa hukuman-Nya
F. Raja' yang disertai dengan ketundukan dan
perendahan diri
Syaikh
Al 'Utsaimin rahimahullah berkata: "Roja' yang disertai dengan perendahan
diri dan ketundukan tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah 'azza wa jalla.
Memalingkan roja' semacam ini kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa jadi
syirik ashghar dan bisa jadi syirik akbar tergantung pada isi hati orang yang
berharap itu..." (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)
G. Mengendalikan Raja'
Sebagian
ulama berpendapat: "Seyogyanya harapan lebih didominasikan tatkala berbuat
ketaatan dan didominasikan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat."
Karena apabila dia berbuat taat maka itu berarti dia telah melakukan penyebab
tumbuhnya prasangka baik (kepada Allah) maka hendaknya dia mendominasikan harap
yaitu agar amalnya diterima. Dan apabila dia bertekad untuk bermaksiat maka
hendaknya ia mendominasikan rasa takut agar tidak terjerumus dalam perbuatan
maksiat.
Sebagian yang lain mengatakan: "Hendaknya orang yang
sehat memperbesar rasa takutnya sedangkan orang yang sedang sakit memperbesar
rasa harap." Sebabnya adalah orang yang masih sehat apabila memperbesar
rasa takutnya maka dia akan jauh dari perbuatan maksiat. Dan orang yang sedang
sakit apabila memperbesar sisi harapnya maka dia akan berjumpa dengan Allah
dalm kondisi berbaik sangka kepada-Nya. Adapun pendapat saya sendiri dalam
masalah ini adalah: hal ini berbeda-beda tergantung kondisi yang ada. Apabila
seseorang dikhawatirkan dengan lebih condong kepada takut membuatnya berputus
asa dari rahmat Allah maka hendaknya ia segera memulihkan harapannya dan
menyeimbangkannya dengan rasa harap. Dan apabila dikhawatirkan dengan lebih
condong kepada harap maka dia merasa aman dari makar Allah maka hendaknya dia
memulihkan diri dain menyeimbangkan diri dengan memperbesar sisi rasa takutnya.
Pada hakikatnya manusia itu adalah dokter bagi dirinya sendiri apabila hatinya
masih hidup. Adapun orang yang hatinya sudah mati dan tidak bisa diobati lagi
serta tidak mau memperhatikan kondisi hatinya sendiri maka yang satu ini
bagaimanapun cara yang ditempuh tetap tidak akan sembuh." (Fatawa Arkanil
Islam, hal. 58-59
H. Masalah Raja’ Pada
Remaja Saat Ini
1. Banyak remaja yang tidak berharap kepada Allah, melainkan
kepada selain Allah, seperti dukun.
2. Para remaja cenderung berusaha tanpa berdo’a
3. Lebih mementingkan duniawi.
Contoh cerita tentang raja’ :
Suatu
hari Pak Sholeh, awalnya dia dan keluarganya hidup makmur berkecukupan. Mempunyai
banyak usaha, anaknya juga begitu. Salah satunya punya usaha warnet yang rame
di Jogjakarta. Namun, layaknya roda, kehidupan ini berputar, tak selamanya
orang merasakan hidup senang dengan harta yang melimpah.
Pada
suatu waktu, usahanya bangkrut. Keluarganya menyalahkannya sebagai biang dari
kebangkrutan. Walaupun masih berkumpul dengan keluarganya, tapi dia merasa ada
sesuatu yang berbeda, harga dirinya sebagai kepala keluarga dipandang sebelah
mata oleh istri dan anak-anaknya. Dia memang merasa bersalah, tapi perubahan
sikap keluarganya yang drastis tersebut telah mengusik hatinya, membuatnya
sedikit terluka. Dalam kondisi demikian, si bapak ini lebih banyak merenung
sambil berpikir untuk memulai usaha lagi dari nol karena memang hartanya telah
habis, telah bangkrut.
Dan..Si
bapak mulai merintis kerja menjadi tukang rombeng
Pekerjaan
sebagai tukang rombeng (mencari barang-barang bekas) memang tak pernah
terbayangkan sebelumnya. Awalnya dengan terpaksa melakukan pekerjaan itu. Tapi
pelan-pelan menjadi biasa. Begitulah hari-hari melelahkan dijalaninya sambil
tetap terus merenungkan diri tentang keadaan yang menimpanya. Dia lantas lebih
banyak berpikir tentang eksistensi dirinya dan kekadiran akan Tuhan. Ya, dia
mulai sadar bahwa selama ini jarang menghadirkan Tuhan dalam hatinya, lebih
banyak lalai, lebih banyak lupa.
Nah,
pada suatu waktu, si bapak ini mendaptkan uang enambelas ribu limaratus (Rp
16.500) seharinya. “Lumayan”, gumamnya sambil mengusap peluh di keningnya.
Karena siang begitu terik dan diri terasa lelah, mampir ke sebuah warung untuk
membeli minuman. Dalam warung tersebut, ada dua orang lelaki yang sedang asyik
bermain catur. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia justru mentraktir
keduanya minum teh botol bersama, ya, bapak tukang rombeng ini yang
membayarnya.
Rupanya,
salah satu lelaki itu terkesan. Berawal dari traktiran itu, salah satu bapak
tersebut mengajak si tukang rombeng kerumahnya, ngobrol sana sini. Disinilah
kemudian terseritakan apa yang dialami tukang rombeng itu. Termasuk cerita
tentang keluarganya yang tak lagi menghargai dirinya setelah jatuh ke jurang
kemiskinan. Mendengar ceritanya, hatinya pun luluh dan trenyuh. Peristiwa tak
terduga berjalan spontan. Kebetulan, ada sebuah rumah yang masih kosong yang
masih menunggu pembeli. Dan tukang rombeng ini disuruh untuk menempati saja
tanpa harus bayar.
Subhanallah,
bersyukurlah dirinya. Tentu, semuanya bukan semata-mata karena sebotol teh,
tetapi karena ketulusan dan kegigihan dalam hidupnya. Rela menjalani kehidupan
dengan pekerjaan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk kembali
mencapai kesuksesan seperti sediakala. Tak kenal putus asa, yang ada hanyalah
harapan akan sebuah nasib yang lebih baik kelak kemudian. Cerita diakhiri
ketika tukang rombeng sedang merintis usaha baru di sebuah rumah yang
ditempatinya secara cuma-cuma.
I. Problem Solving
1. Memperkuat iman dan
taqwa kepada Allah
2. Lebih sering
mendekatkan diri kepada Allah
3. Tidak lupa atas
kenikmatan yang diberikan Allah dan selalu bersyukur
J. Faktor raja :
-
Internal :
·
niat
·
mengharapkan ridha
Allah
-
Eksternal :
o
melakukan sesuatu
untuk kehidupan manusia
K. Manfaat dan Hikmah
Raja :
- Memperoleh keridaan Allah
- Terhindar dari perbuatan dosa
- Mendapatkan kepuasan hidup
- Mendekatkan diri kita pada Allah S.W.T
- Sarana penyelesaian persoalan hidup
- Memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
- Memperoleh keridaan Allah
- Terhindar dari perbuatan dosa
- Mendapatkan kepuasan hidup
- Mendekatkan diri kita pada Allah S.W.T
- Sarana penyelesaian persoalan hidup
- Memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
L. Contoh perilaku raja’ dalam kehidupan
:
- Bekerja dengan mengharap rida Allah atas penghasilan yang ia dapat
- Bersedekah dengan mengharap rida Allah
- Membantu orang lain tanpa pamrih dan hanya mengharap rida Allah
- Bekerja dengan mengharap rida Allah atas penghasilan yang ia dapat
- Bersedekah dengan mengharap rida Allah
- Membantu orang lain tanpa pamrih dan hanya mengharap rida Allah
Daftar
Pusaka
Komentar
Posting Komentar