Matahari Kembar


BALI,27th May 2011,
Pantai Kuta siang ini benar-benar panas. Kuputuskan untuk mengikat rambut cokelatku tinggi-tinggi lalu menyeruput sisa es jerukku sampai habis kemudian beranjak dari tempat dudukku. Dengan teliti mataku menyapukan pandangan ke seluruh peselancar yang sedang berlomba di tengah pantai, mencari sosok yang membuatku mendatangi tempat ini.
“Nah, that’s him!” segera kuabadikan beberapa foto coolnya dengan kameraku begitu mataku menangkap sosoknya. Selang beberapa menit setelah perlombaan itu, my prince charming-karena dia memang sangat charming- setengah berlari menuju tepi pantai. Seakan ada efek slow motion aku dibuatnya terpana.
“What a cool guy, God heaven, he’s so hot!!!” kedua telapak tanganku saling menempel,lalu seulas senyum, bahkan seperti orang tertawa tanpa suara kulakukan saat melihatnya mengibaskan rambutnya yang basah. Untung saat itu nggak ada lalat yang mampir ke mulutku sekedar untuk berlindung dari panasnya Kuta siang ini,karena aku sedang menganga lebar sekali. Aku nggak mau mati konyol karena lalat nggak tahu diri itu.

BALI, 28th May 2011       
Aku berjalan menuju kelas dengan seabrek buku tertata rapi di tangan. Tiba-tiba sebuah suara cempreng yang kukenal hampir membuatku menjatuhkan buku-buku itu.
“Hi Laurent!” aku menatap si empunya suara sambil menggeram.
“Hi there! Did you know that you’re about to make my books fall?!”
“Saya hanya ingin cuma menyapa anda tidak punya niat untuk menjadi kaget kamu.” Jawabnya dengan selang waktu yang lama. Aku tahu dia masih berpikir.
“You’re so bad. Im better than you” aku meringis, membuat emosiku mulai reda.
“No way!! You aren’t such a smart girl,are you?” Janet mengarahkan telunjuknya ke arahku.
“Yes way. Hahaha” segera kutinggalkan bule Aussie yang sedang bersiap menimpukku.

          Udayana siang ini agak sepi. Mungkin mereka mereka itu sedang berusaha menghindari kuis. Beberapa temanku juga telah keluar dari kelas ini. Hanya tinggal beberapa anak saja yang memang masih sibuk menggosip. Jemariku dengan lincah menari diatas keyboard laptop, membuka satu persatu foto my prince charming. Mungkin dengan melihat beberapa pose coolnya bisa membuat otakku segar lagi setelah kuis tadi. Tapi sialnya dari sekian banyak fotonya, nggak ada satupun yang menampilkan wajahhnya secara jelas. Walaupun dari jauh aku tentu bisa melihat kegantengan yang disandangnya. Suara pintu yang terbuka membuyarkan konsentrasiku memandang tubuh seksinya. Sebuah kepala mendongak kedalam sambil matanya menyapu seluruh isi kelas. Sepertinya si empunya sedang mencari seseorang.
“Pak Halim kemana ya?” aku menoleh kebelakang. Siapa tahu laki-laki itu sedang berbicara dengan yang lain. Tidak ada siapa siapa di belakangku. Hanya gerombolan cewek di pojok sana.
“Hey! Im speaking with you!” aku malu plus kaget. Ternyata si ganteng itu berbicara denganku.
“Ini kelasnya udah selesai,jadi mungkin dia di ruangannya. Cari aja..” dalam hati aku memujinya habis-habisan. Ganteng bangeeeeeeeeeeet! Cowok itu menganggukan kepala sebelum pergi. Tapi aku langsung meneriakinya.
“Hey! Bule mana?” tanyaku lantang.
“Germany.” Aku tersenyum lebar mendengarnya.
“Me too!”  sahutku cepat. Lalu si ganteng itu kembali berjalan pergi, sementara mataku terus menatap punggungnya yang semakin mengecil.

BALI, 4th June 2011       
Sudah seminggu aku melakukan rutinitas ke Kuta untuk menyaksikan my prince charming surfing. Saat itu aku tengah melihatnya berkacak pinggang sambil melihat rekannya yang beraksi. Setelah kuamati, ternyata sebuah kalung putih melingkari lehernya. Aku pernah dengar kalau hampir semua peselancar mengenakan kalung untuk keseimbangan saat mereka beraksi. Walaupun dari belakang, aku tahu bahwa makhluk yang kukagumi itu memiliki tubuh yang ideal untuk ukuran laki-laki. Aku jadi berkhayal, merasakan hangat dekapannya, menghirup wangi tubuhnya dan merasakan betapa bangganya menggandeng dia kemanapun. Betapa bahagianya aku saat semua itu menjadi nyata. Tentu membuat semua kaum hawa menjadi iri. Lamunanku buyar saat lagu In The End-nya Linkin Park terdengar. Panggilan masuk dari Janet. Dengan amat terpaksa aku meninggalkan Kuta untuk memacu mobilku ke rumah Janet yang sedang butuh bantuan.
BALI, 5th June 2011
Kulangkahkan kakiku memasuki Universitas ternama di Bali. Aku celingukan mencari cowok Jerman itu. Muter sana sini tapi belum juga ketemu. Aku menjadi frustasi,lalu kuputuskan untuk duduk di salah satu bangku tunggu di dekat jendela. Kalau dipikir-pikir mencari orang di Udayana susah juga,butuh tenaga ekstra. tapi itu menguntungkanku. At least berat badanku bisa turun,yah sekilo lumayanlah..Walaupun banyak laki-laki yang mengatakan tubuhku proporsional aku tetap merasa perlu menurunkan berat badan. Setelah cukup mengatur napas, aku beranjak berniat untuk masuk ke kelas. Eh tapi ternyata jodoh nggak kemana. Aku melihatnya! Bule Jerman itu! Tampaknya dia sedang mengobrol serius dengan temannya yang bule wanna be. Segera kuarahkan kakiku menuju salah satu pilar dekat mereka. Untungnya pilar itu cukup besar sehingga berhasil menyembunyikan tubuhku dibelakangnya. Aku menguping.
“Ayolah man, sekali aja nggak ikut nggak papa kan?” itu pasti suara si bule wanna be itu.
“nggak bisa. Hari ini hadiahnya bagus,sayang kalo nggak ikut. “ kalau ini suara bule Jerman itu. Tapi nadanya terlihat memelas.
“Terserah deh, moga moga menang.” Tampaknya bule wanna be itu meninggalkannya sendiri.
Sementara aku yang masih ngumpet di balik pintu menjadi kebingungan. Sebuah tanda tanya gede meloncat girang di kepalaku.
“A competition? What competition?!”
* * * * *
          Seulas senyum merekah di bibir merahku. Itu dia! My prince charming. Aku berlari kecil mendekati pantai. Kubiarkan ombak menyapa kaki jenjangku. Sekali,dua kali aku berusaha mengambil fotonya. Setelah puas memandang tubuhnya yang seksi, aku memutuskan untuk pulang. Matahari rupanya juga ikut pulang,tapi nggak barengan sama aku layaw!!

BALI, 6th June 2011    
Aku tergopoh-gopoh menuju ruang dosen. Beliau memintaku untuk menemuinya jam 9, tapi ini sudah jam 9 lewat lima menit. Payah! Saat aku berada tepat di depan ruangannya,aku merapikan dandananku dulu sebelum membuka pintu itu. Aku menghembuskan nafas panjang sambil mendorong daun pintu. Lho kok malah ada cowok Jerman itu sih? Dosennya kemana?
“Ehm, Pak Halim kemana ya?” aku masih berdiri dibelakang pintu.
“Nggak tahu, belum datang mungkin. Kalau ada perlu tunggu disini aja.” Tuturnya ramah sambil menepuk tempat kosong disebelanhya. Aku mengangguk dan langsung melakukan perintanya.
Semenit, dua menit, Pak Halim juga belum datang. Sementara aku merasa keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Wangi parfumnya menyatu dengan aroma maskulin khas membatku salah tingkah. Keheningan terjadi diantara kami.
“Kenapa?”
“Hah?” mataku menatapnya tidak sengaja.
“Kenapa disini?ada perlu apa?” cowok itu menatapku lurus-lurus tanpa ampun.
“Eh, aku disuruh ke ruangannya jam sembilan tepat. Tapi ini udah hampir jam sepuluh.” Aku mengarahkan dagu ke jam dinding yang menempel di tembok.
“Sama deh. Ya udah kita tunggu aja.” Tiba-tiba kedua tangannya yang dibalut kemeja panjang yang ditekuk sampai siku itu direntangkannya ke sandaran sofa. Tentu saja itu membuatku tidak nyaman. Wangi tubuhnya semakin terasa. Cowok disebelahku ini lagi-lagi membuatku salah tingkah. Tanpa kuduga, dia melepas dua kancing atas kemejanya sambil membuat posisi duduknya agak merosot. Aku mengernyit melihat tindakannya itu. Jangan-jangan….
“Masalah nggak kalo aku kayak gini? Gerah disini lama-lama.” Ucapnya santai. Iya masalah banget! Tahu nggak sih, kamu tuh bikin aku salting! Disini kan adem, ngapain pake lepas kancing segala?
Tapi deretan kalimat itu urung aku ucapkan. Entah kekuatan apa yang dimilikinya sehingga deratan kalimat itu terkunci rapat di bibirku. Sebagai gantinya, aku hanya membalas pertanyaannya tadi dengan gelengan kepala. Bego!  Aku nggak bisa menjauhkan pandanganku darinya. Memang cowok ini punya badan yang bagus. Sekali-sekali aku melirik dada telanjangnya. Cowok ini..hmm, benar-benar sexy. Aku langsung berpaling begitu mata kami bertemu. Pipiku bersemu merah. Tampaknya cowok itu menyadarinya. Seulas senyum yang tertahan terlihat jelas di bibirnya.
“What’s your name?” dia memutar duduknya menghadapku lau menyodorkan tangan kananya
“Laurent Maifeier. Laurent aja” aku menjabat tangan itu  dengan malu-malu.
“Darren.” Senyum terbentuk di bibir sexynya. Aku membalasnya dengan tersenyum. Nggak hanya di bibir,tapi juga di hati. Yes, akhirnya mulai detik ini aku resmi berkenalan dengannya!
Percakapan itu segera berakhir. Keheningan berhasil mendominasi lagi. Sementara waktu menunjukkan pukul setengah sebelas. Diam-diam aku mensyukuri ketidak hadiran Pak Halim. Sepertinya nggak akan ada momen ini kalau beliau datang. Tiba-tiba Darren-sekarang aku sudah tahu namanya.-bangkit dari tempat duduknya.
“Aku mau keluar. Kayaknya Pak Halim nggak jadi kesini deh. Kamu mau tetep disini atau ikut keluar?” badan tegapnya kini menghadapku.
“Aku ikut keluar aja deh…aaaah!” BRRUKK! Ada kabel sialan yang menyandungku sehingga akhirnya menjerumuskanku ke pelukan hangat Darren. Tangan kirinya memegangi pinggangku sementara yang kanan melinkar di bahuku. Nggak ada jarak yang jelas antara kami. Bahkan aku bias mendengar nafasnya. Hidung mancung kami menempel. Matanya menatapku lekat-lekat. Hangat. Teduh. Aku memejamkan mata saat Darren memiringkan kepalanya perlahan. Detak jantungku semakin cepat,pikiranku melayang. Lalu detik berikutnya sebuah bibir hangat dan basah menempel di bibir milikku. Darren melakukannya dengan lembut.
“WHAT THE HELL ARE YOU DOING HERE?!!” suara melengking Pak Halim terdengar menggelegar.
* * * * *
            Aku berdiri mematung menatap Kuta. Nggak ada My prince charming disana. Memang bukan karena dia aku kesini, melainkan karena kejadian tak terduga tadi siang bersama Darren terus membayangiku. Aku masih ingat betul rasanya. Aku nggak menyangka Darren akan senekat itu, seberani itu, walaupun aku menyadari siapa dia. Darah western mengalir ditubuhnya. Aku menyipitkan mata menatap pantai yang indah itu, sebelum tiba-tiba seseorang menyentuh bahu telanjangku.
“Sorry atas kejadian siang tadi. Aku kelepasan, nggak kuat menahan emosi itu.” Sorot matanya yang tajam menatapku tepat di bola mata. Aku mendongak agar bias membalas tatapannya seolah menuntun alasan lebih lanjut darinya.
“Laurent, grund ich liebe du..” ucapnya lirih sambil mendekap kedua pipiku. Mata itu menjelaskan keseriusan atas ucapannya tadi. Lalu kejadian tadi siang terulang lagi.
            Darren menghentikan kegiatan kami tadi. Dia melepas kausnya memamerkan tubuh sixpack maha sempurnanya. Aku menatapnya heran dan tampaknya dia menyadari keherananku itu.
“Aku mau surfing nih. Tolong pasangin ini ya my girl.” Dia menyodorkan sebuah kalung putih lalu badannya dibungkukkannya sedikit. Aku terhenyak. Kalung putih, surfing, pikiranku mencoba mencerna semuanya. Mataku membulat saat menyadarinya. Darren, my prince charming adalah orang yang sama. Matahari kembar! Segera ku pasang kalung tadi di leher Darren yang kini bersatus menjadi boyfriendku. Setelah itu ia mencium keningku sebelum akhirnya berlari menuju pantai untuk bergabung dengan kawanannya. Sementara aku menengadah ke langit sambil berteriak.
“I’M A LUCKIEST GIRL IN THE WORLD!!!!” teriakan itu menggema kemudian terdengar semakin kecil, semakin kecil sampai tak terdengar sama sekali.
* * * * *
            Aku mengerjapkan mata berulang kali. “Where am I?” aku melirik kalender digital yang menempel di dinding dengan khawatir. Benar saja, tulisan yang tertera disana membuatku lemas tak berdaya. GERMANY,23th August 2010.
“NO WAAAAYYYYYY………..!!!”

Komentar

Postingan Populer