The Story of Us


Aku mengulangi membaca beberapa kali balasan darinya. Aku tidak mungkin salah menerjemahkan! I’ll visit you three days later. Wait for me ;). Perlahan tanpa sadar aku mengusap layar laptop. Pikiranku sudah berlari kemana-mana. Tiga hari lagi, tiga hari lagi dia akan berkunjung ke Indonesia. Aku akan bertemu dengan seseorang yang telah menjadi teman chattingku selama lima tahun.
Namanya Adam. Aku bertemu dengannya di sebuah situs internet khusus untuk mengobrol dengan orang asing secara acak. Saat pertama kali aku mengenalnya dia masih berumur 19 tahun dan masih seorang mahasiswa. Usia kami hanya terpaut empat tahun. Aku akui memang saat aku mengobrol dengannya untuk yang pertama kali, aku tidak merasakan apa-apa. Namun semakin lama aku mengenalnya, aku menyadari bahwa Adam memang berbeda. Ia tidak seperti kebanyakan bule lainnya yang pernah kukenal. Mereka-meraka memang sangat hobi melakukan seks. Tapi Adam tidak. Dia memilih menaati peraturan agama untuk tidak berbuat hal-hal yang diharamkan. Alasan lagi mengapa aku merasa cocok dengannya adalah keyakinan kami sama. Ia memang lahir di Sydney, namun keluarganya adalah keturunan Afghanistan. Aku salut kepadanya karena di tengah pergaulan remaja Sydney yang mayoritas pernah melakukan seks, ia tetap tidak terpengaruh.
Adam pernah memberitahuku bahwa ia sulit sekali untuk jatuh cinta. Bahkan ia merasa tidak akan menikah karena tidak mau kehidupannya terganggu. Aneh tapi unik. Aku sangat menyukai sikapnya dalam mengahadapi masalah. Sangat dewasa dan bijaksana. Aku juga menyukai caranya bertutur kata. Terkesan tidak menggurui namun lawan bicaranya seakan  dapat menuruti apa katanya.
Aku sendiri memang sebenarnya tidak begitu lancar berbahasa Inggris. Satu-satunya hal yang kutakuti ketika suatu saat aku bertemu dengannya adalah kami tidak dapat mengerti satu sama lain. Kadang aku merasa lebih baik kita hanya mengobrol lewat internet saja. Namun keinginanku untuk bertemu langsung dengannya itulah yang membuatku giat mempelajari bahasa Inggris. Aku tidak ingin mengecewakannya jika suatu saat ia pergi mengunjungiku. Bahkan tanpa dia ketahui, aku sering membayangkan kita berdua bisa menjadi lebih dari sekedar teman. Bodoh. Ya aku terkadang memang bermimpi terlalu tinggi. Padahal Adam sendiri yang mengatakan bahwa ia sangat sulit jatuh cinta. Butuh beberapa waktu untuk mencintai seseorang. Sebaiknya aku segera menghilangkan pikiranku tentang dia sebelum aku kecewa besar-besaran.
Akhirnya hari ini datang juga! Adam memberitahu bahwa ia akan sampai di bandara pukul tujuh pagi. Sekarang ini aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Adam tidak mengatakan baju apa yang sedang ia pakai. Jadi aku sebisa mungkin harus bisa mengingat wajanya melalui foto yang kupunya.
Bandara I Gusti Ngurah Rai terlihat ramai. Mungkin karena akhir pekan banyak orang yang ingin pergi ke Bali. Aku segera mengeluarkan kertas bertuliskan nama Adam untuk berjaga-jaga apabila aku tidak dapat mengenalinya. Jantungku berdegup kencang begitu melihat segerombolan orang yang baru saja tiba dari penerbangan. Aku mengangkat kertas yang kubawa tinggi-tinggi. Sambil terus mengamati satu persatu turis yang datang, jantungku seakan ingin melompat. Perutku menjadi mulas sekali. Aku tidak dapat menahan keinginanku untuk pergi ke toilet. Hampir lima menit aku berdiri sambil membawa kertas namun tak ada yang menghampiriku. Sampai akhirnya ketika aku akan memutuskan untuk ke toilet, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menutup mataku. Ia membisikkan kata-kata yang membuatku langsung menyunggingkan senyum bahagia.
“Thanks for picking me up, Fara.” Bebarengan dengan itu, ia melepaskan tangannya dari mataku.
“Adam!” kami saling berbagi pelukan begitu aku melihat sosoknya. Di sela-sela pelukan kami, ia mengatakan bahwa ia sudah menunggu momen seperti ini cukup lama.
Setelah beberapa menit kemudian, kami melepas pelukan dan saling memandang satu sama lain. Adam memiliki kulit yang pucat. Aku bersyukur tinggi kami tidak terpaut terlalu jauh. Aku lebih menyukai memandangnya secara langsung daripada dari foto. Ia sangat tampan dan...terlihat dewasa. Aku merasakan ia juga sedang mengamatiku dan memikirkan sesuatu tentang diriku. Ia menilaiku. Kami berdua saling menilai satu sama lain sampai akhirnya kami tertawa karena terlalu lama berpandangan.
Aku membantunya mencari hotel yang dekat dengan rumahku. Ia sedang cuti bekerja katanya. Hari ini kami telah menyusun jadwal. Pertama-tama yang akan kami lakukan adalah berkeliling daerah sekitar, pergi makan siang, lalu menikmati sunset di pantai Sanur.
“This is funny and crazy. Why do you wanna visit me? Aren’t you afraid if I’m not real?” kataku sambil mengemudikan mobil.
“We’ve been friends during five years. You’re my best friend. So I decided to visit my best friend eventhough she lives far away from me.”
Best friend. Mengapa aku tidak suka kata itu? Aku menginginkan lebih dari sekedar best friendnya. Entah mengapa aku tiba-tiba berpikir bahwa bukan itu alasan satu-satunya Adam mengunjungiku.
      Tepat jam lima sore ketika kami tiba di pantai Sanur. Adam terlihat menikmati pemandangan disana. Kali ini kami lebih banyak bercanda ketimbang mengobrol yang serius hingga Adam melakukan sesuatu yang mengejutkanku.
“Mumpung aku di sini, hal-hal apa saja yang ingin kau lakukan bersamaku?” pertanyaan Adam membuat mulutku membulat. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Ia berbicara bahasa Indonesia dengan fasih dan lancar!
“Adam, kau....?”
“Jauh-jauh hari sebelum bertamu ke sini, aku meminta temanku untuk mengajariku bahasa Indonesia. Ternyata it’s so simple and easy y’know.”
“Aku, aku tidak percaya kau mau bersusah payah belajar bahasa Indonesia hanya untuk menemuiku.”
“Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau adalah teman yang baik. Aku tidak ingin terjadi miscommunication saat kita mengobrol.”
“Jadi kau meremehkanku, ya? Enak saja! Aku juga sudah memperbaiki kemampuan bahasa Inggrisku.” Sahutku sedikit sebal. Namun Adam menggodaku untuk mengembalikan moodku lagi. Kami saling menggelitik satu sama lain sambil tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba..
“Look!” Adam menunjuk matahari yang akan terbenam itu. Sesaat kami berdua terdiam sambil mengamati keindahan matahari kembali ke peraduan.
“That was beautiful.” Aku menoleh kearahnya untuk memastikan ia menyetujui perkataanku.
“Yeah it was.” Jawabnya kalem.
“Sebentar lagi kau akan kuantar pulang. Aku harus pergi kuliah jam tujuh nanti. So, let’s go home.”
      Setelah kami tiba di hotel, Adam terlihat enggan keluar dari mobil. Tetapi setelah aku membujuknya, ia turun juga. Aku berjanji bahwa esok aku akan memabawanya jalan-jalan lagi.
      Hari demi hari berganti. Tak terasa sudah satu minggu Adam berada di Bali. Selama ini aku dan dia merasa nyaman satu sama lain dan merasa tidak pernah bosan walaupun setipa hari bertemu. Adam adalah satu-satunya seseorang yang kutemui lewat internet yang masih tetap berhubungan denganku, bahkan sampai bertemu denganku. Teman-teman asingku yang lain berbeda. Setelah aku bertemu mereka lewat situs itu, paling-paling kami hanya mengobrol dalam beberapa hari saja. Tidak ada yang bertahan dalam hitungan bulan, apalagi tahun.
      Siang ini aku dan Adam sedang berada di pantai Kuta. Rencananya kami akan bermain banana boat. Namun ketika kami sedang dalam perjalanan menuju lokasinya, tiba-tiba Adam berlari dan menepuk seseorang. Itu teman lama Adam rupanya. Maka akupun diperkenalkan kepada seseorang yang jangkung itu.
“Yo man, will you meet me to your beautiful friend?” katanya sambil memandangiku.
“Sure. Matt it’s Fara. Fara it’s Matt.” Adam memperkenalkanku kepadanya dengan sopan.
“Nice to meet you, Matt.” Jawabku sesopan mungkin.
“Uh, she’s my girl friend.” Adam merangkulku sambil mengatakannya. Aku yang saat itu sangat terkejut tidak dapat berkata apa-apa.
“Wow man, so you decided to look for Indonesian girl?” rupanya Matt juga tak kalah terkejut.
“Yeah. We’ve been dating for a long time. I love her so much.” Adam mencium keningku. Sementara aku hanya dapat tersenyum canggung demi ikut berbohong kepada Matt. Aku tidak mengerti Adam. Apa ia benar-benar serius?
Setelah kejadian tadi, kami sama-sama diam sendiri. Sampai saat kami sudah berada di atas banana boat, barulah Adam melontarkan candaan lagi. Aku memutuskan untuk meladeninya dan melupakan kejadian tadi sejenak.
Hari telah menjelang sore ketika kami bersiap untuk pulang. Kami memutuskan untuk makan malam sebentar sebelum aku kuliah. Di sela-sela makan malam kami, Adam tiba-tiba memintaku untuk menemuinya setelah aku selesai kuliah.
“Jam dua belas. Apa tidak terlalu malam? Tidak bisakah besok saja?”
“Tidak, Fara. Sebentar saja ya..Ini penting.”
“Kalau begitu kau bawa saja mobilku. Nanti tepat jam dua belas, kau jemput aku di kampus. Awas jangan tersesat ya.” Gurauku kepadanya. Ia hanya tersenyum sambil menyantap makanannya. Seusai makan malam, aku langsung menggandengnya menuju tempat parkir karena kuliahku dimulai setengah jam lagi.
Jam dua belas tepat. Aku menengok ke tempat parkir namun Adam belum muncul. Sebnarnya aku lelah juga karena dari tadi siang aku tidak beristirahat sedikitpun. Pulang pun hanya untuk mengambil tas saja sebelum berangkat kuliah. Lima menit kemudian mobilku datang. Semuarasa lelahku tiba-tiba hilang begitu saja ketika melihat Adam.
“Where are we going?”  tanyaku penasaran. Kulihat wajah Adam, kutatap matanya yang sedang fokus ke jalanan. Ia tidak menjawab. Wajahnya terlihat tegang dan serius. Ia membelokkan mobil lalu berhenti di pinggir trotoar pantai. Ia turun dari mobil tanpa mengajakku. Maka aku mengambil inisiatif untuk mengikutinya. Setelah kakinya menyentuk air pantai, ia berhenti. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia berdiri membelakangiku tanpa suara. Sampai akhirnya..
“Tentang tadi siang itu, apa kau marah padaku?” tanyanya dengan tetap membelakangiku. Aku menatap punggungnya sambil berpikir jawaban yang tepat.
“Aku hanya terkejut. Aku sebenarnya tidak marah kok.” Jawabku terbata-bata. Lalu Adam mulai berbalik dan bejalan mendekatiku. Ketika ia akan membuka suara, jantungku berdegup kencang sekali. Aku sampai takut Adam dapat mendengarnya.
“Lalu apakah kau mau kejadian tadi hanya pura-pura saja?”
“Adam...” aku verusaha mengalihkan pandanganku dari matanya. Tubuhku sedikit kedinginan karena angin malam. Adam memegang bahuku dan memaksaku untuk menatap matanya.
“Bagaimana kalau aku ingin kejadian yang tadi itu menjadi kenyataan?”
“Adam, kau ini sedang berbicara apa?”
“Aku rasa aku tidak perlu berpura-pura lebih lama lagi. Kau tahu aku punya banyak alasan untuk datang kemari. Salah satunya adalah untuk menemuimu. Bahkan kau mungkin tahu mengapa aku mau bersusah payah belajar Bahasa Indonesia. Itu semua demi kau, Fara. Tidakkah kau menyadari bahwa aku mencintaimu?”
“Kau juga seharusnya tahu apa perasaanku kepadamu. Kalau kau memang pintar..” candaku garing.
“Tidak. Aku bodoh. Aku tidak akan mengerti sebelum kau berbicara langsung.” Adam tetap mengunci tatapanku. Jarak kami sangat dekat sekali. Bahkan aku dapat mendengar setiap nafasnya.
“Aku mencintaimu..” bisikku lirih karena suaraku bergetar. Setelah Adam mendengar jawabanku, ia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat sekali.
“Kau tahu, aku sampai gugup setengah mati hanya untuk mengatakan perasaanku kepadamu. Tapi itu tidak sia-sia ternyata. Terima kasih karena tidak membuatku malu.” Jelasnya sambil diselingi tawa. Tangannya membelai rambutku dengan lembut.
“Kalau aku tahu ini akan jadi malam terindah, aku tidak akan mau meninggalkanmu sedetik pun.”
Kami melepas pelukan. Beberapa detik kemudian kami hanya beradu tatapan. Ini yang disebut kebahagiaan dunia. Kami akhirnya mampu bersatu setelah lima tahun menunggu kepastian. Adam mendekatkan wajahnya kepadaku perlahan-lahan. Aku tidak mampu menatap matanya lagi karena sudah terlalu dekat dan pandangan menjadi kabur. Aku memejamkan mata dan menikmati apa yang terjadi. Bibir Adam menyentuh bibirku. Lembut sekali. Kami berciuman di bawah sinar rembulan yang indah. Adam telah memberiku ciuman pertama. Dan aku tidaka akan pernah kapok merasakan bibirnya. Aku akan selalu merindukan caranya menciumku. KarenaiInilah ciuman sempurna!
Setelah beberapa minggu resmi menjadi kekasih Adam, aku menceritakan kepada Ibuku. Ia setuju karena Adam adalah pemuda yang baik. Adam juga sering berkunjung ke rumahku untuk lebih dekat kepada keluarga. Namun aku tidak habis pikir ketika ia menyuruhku untuk memberitahu Ayah juga. Sebenarnya aku enggan pergi kerumahnya. Ayah dan Ibuku sudah bercerai sejak aku kecil. Karena itu aku merasa ia tidak perlu tahu tentang hal ini. Toh ini hanya sebuah hubungan saja.
Aku memarkir mobilku di depan halaman rumah Ayah. Dengan enggan aku memasuki rumah yang hampir tidak pernah kudatangi itu.
“Tidak bisa! Cari orang Indonesia saja. Ayah tidak suka suatu saat kau meninggalkan Ayah dan Ibumu. Sudahlah kau bilang saja padanya bahwa kau tidak dapat melanjutkan hubungan ini.” Mataku terasa panas sekali. Bagaimana tidak, aku sungguh tidak menyangka bahwa aku akan mendapat penolakan seperti ini. Ayah yang selama ini tidak pernah hadir dalam hidupku tiba-tiba mengacaukan impianku. Aku marah kepadanya. Ia tidak pernah tahu tentang diriku. Lalu mengapa saat aku ingin mencapai kebahagiaanku, ia malah mecekalnya?
“Kalau kami tua, siapa yang akan menjaga dan mengurus kami? Kau anak tunggal! Mengertilah, Nak..”
Aku tidak menjawab semua perkataannya. Aku hanya menangis karena takdir ini. Padahal aku sudah memimpikan bersama Adam sejak dulu. Namun inilah takdir yang harus kuterima.
Adam meneleponku untuk mengajak makan malam. Beberapa hari terakhir ini aku enggan keluar rumah selain untuk pergi kuliah. Bahkan aku sudah tidak tega untuk bertemu dengan Adam lagi. Namun Ibuku membujuk agar aku mau bertemu dengannya dan berkata terus terang.
Saat aku sudah tiba di sebuah kafe, Adam menyambutku. Ia memelukku erat lalu mencium keningku. Aku merasa sesak nafas. Bagaimana mungkin aku tega menyakitinya?
“I miss you so much. Kau ke mana saja akhir-akhir ini? Tidak merindukanku, ya?” ekspresinya pura-pura sedih saat mengucapkan kalimat itu.
“Aku juga merindukanmu kok. Hanya saja aku harus menyelesaikan beberapa tugas. Mereka sangat menyita waktuku.”
Adam terus bergurau selama kami di sana. Aku tidak memesan makanan karena memang perutku akan berontak jika terisi makanan.
“Kau mengapa diam saja?”
“Aku harus mengatakan sesuatu padamu.”
“What is it?”
“I went to my father’s home to tell him that we’re in a  relationship now. My Mom asked me to do it. And...” aku sungguh tidak ingin melanjutkan ucapanku. Adam benar-benar telah menyadari kebingunganku. Ia sekarang memustakan pandangannya kepadaku.
“Then?”
“He wanted us to break up. He doesn’t like if I’m in a relationship with a foreigner. He’s afraid if I’m gonna leave him and my Mom. He wants me to take care of him when he grow old.” Ucapku sambil menahan air mata.
“But you know I’m not a foreigner anymore. Aku menegenal keluargamu dengan baik. Bahkan mungkin jika kita bisa menikah, kita akan sering berkunjung ke Bali.” Ekspresi kekecewaan terlihat jelas di matanya. Oh tuhan, aku tidak menginginkan pemandangan seperti ini.
“Tapi dia adalah orangtuaku bagaimanapun juga. Aku tidak bisa menolaknya.”
“This is a nightmare.” Adam menggebrak meja lalu bangkit dari kursinya. Ia membelakangiku sambil melipat kedua tangannya. Aku segera beranjak berdiri untuk meminta maaf kepadanya.
“Adam aku minta maaf..” ketika aku mengambil posisi di depannya, aku melihatnya menangis. Matanya sembab. Ia berusaha menutupi tapi semuanya sia-sia.
“Besok aku akan pulang ke Sydney.” Kalimatnya yang barusan terdengar sungguh bagaikan halilintar yang menyambarku. Ini adalah kemungkinan yang paling aku takutkan.
“Kau pulang?!”
“Mungkin kita memang lebih baik berteman seperti dulu. Mengobrol lewat Yahoo Messenger dan tidak bertemu seperti ini. Aku akan mengambil penerbangan yang paling pagi. Aku sungguh tidak mengharapkan kehadiranmu di bandara karena itu pasti akan membuatku sulit untuk pergi.”
Mendengar perkataannya aku sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Hatiku hancur lebur malam ini. “Tapi bagaimana aku akan menjalani hidupku tanpamu?”
“Lakukan saja seperti sebelumnya. Kau kan memang pernah hidup tanpa aku. Kau pasti bisa kembali ke masa-masa itu.”
“Tapi masa-masa itu berat! Aku bahkan tidak terpikir ingin mengulangnya lagi.” Aku membentak Adam sambil mengeluarkan tangis.
“Lalu kau mau aku bagaimana? Tetap tinggal disini sementara kau sudah tidak bisa bersamaku lagi?”
Kali ini aku tidak menjawab. Adam pergi meninggalkanku sendiri tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
                              * * * *
“Fara bangun, ayo cepat! Kau harus mengantar Adam ke bandara, kan?” suara Ibu sayup-sayup terdengar olehku yang tertidur pulas. Semalam aku hanya menangis sampai subuh dan sekarang ketika aku terlelap Ibu malah mengingatkanku tentang Adam lagi.
“Aku tidak akan mengantarnya, Bu. Lagipula pesawatnya pasti sudah berangkat.” Jawabku setengah sadar.
“Kau yakin tidak mau menemuinya untuk yang terakhir?” aku merasakan Ibu duduk dan membelai rambutku.
“Tidak.” Dalam hati aku menangis. Namun aku tidak mau Ibu tahu kalau aku sedang tersiksa. Akhirnya Ibu memutuskan untuk membiarkanku kembali tidur. Sepeninggal Ibu, aku bukannya malah bangun tetapi menutup mukaku dengan bantal. Aku sungguh ingin di kamar saja seharian ini. Tidur.
Hari-hari yang aku lewati tanpa Adam begitu suram dan tak berwarna. Aku mengikuti tes kelulusan dengan perasaan jengah. Namun ketika mengetahui aku berhasil lulus kuliah, hatiku kembali tersenyum. Kepergian Adam selama beberapa bulan ini memang tidak memberikan dampak yang begitu baik. Aku hanya keluar rumah seperlunya. Bahkan aku tidak mau mengambil jalan yang berkemungkinan mengingatkanku kepadanya. Ini semua memang karena Ayahku. Namun aku tidak ingin membencinya. Aku ingin menjadi anak yang patuh terhadap orang tua. Dan, ya, Adam suka kepada gadis yang menghormati orang tuanya. Adam lagi! Mengapa setelah berbulan-bulan ini aku belum juga bisa melupakannya?
Hari ini Ayahku datang ke rumah. Beliau menceritakan tentang bisnisnya yang sudah lumayan berkembang. Entah mengapa aku menjadi ingin menangis ketika aku melihat wajah Ayah. Otakku terus memutar kenangan di mana Ayah tidak mengijinkanku untuk bersama Adam. Namun aku tidak mau ia mengetahui hal ini. Aku berpura-pura baik-baik saja ketika ia menanyakan tentang Adam.
“Jadi selama ini kau tidak pernah berhubungan lagi dengan Adam, ya?” selidik Ayah.
“Tidak. Aku juga sudah merelakan hubungan kami.” Jawabku sambil menatap Ibu, meminta dukungannya untuk bercerita kepada Ayah.
“Ya sudah. Kalau begitu keluarlah dari rumah. Ayah dengar kau tidak mau keluar rumah kecuali untuk pergi kuliah. Di luar sana banyak lelaki yang seperti Adam. Kau bisa mencari yang mirip dengannya.”
“Ayah, aku hanya mengenal satu Adam. Tidak akan mungkin ada Adam lain di luar sana. Sudahlah aku baik-baik saja hidup sendiri. Aku tidak mau mencari cinta. Biarlah cinta yang menjemputku.”
Setelah beberapa saat di rumah, Ayah berpamitan pulang. Aku menawari untuk mengantarnya. Meski begitu aku merasa kasihan karena ia tinggal sendirian. Namun Ayah menolak untuk kuantar. Maka sepeninggalnya, aku langsung masuk ke kamar dan mengangis.
                             * * * * *
Ibu mendapat telepon dari Ayah siang ini. Katanya Ayah sedang sakit. Maka Ibu mengajakku untuk menjenguknya karena merasa kasihan kepadanya. Kasihan Ayah disaat sakit seperti ini. Tidak ada yang dapat memberinya perhatian kala ia sedang butuh.
“Ayah sakit apa?” aku melihatnya tertidur di tempat tidur. Badannya berselimut dan suaranya serak.
“Ayah belum tahu. Tadi pagi langsung tidak eak badan. Tidak ada yang mengantar Ayah ke dokter.”
“Kalau begitu aku dan Ibu akan membawa Ayah ke dokter sekarang.” Ketika aku hendak berdiri untuk menyiapkan semuanya, Ayah menarik tanganku.
“Tidak usah. Biar Ayah berangkat dengan Ibumu saja. Sebagai gantinya kau tolong Ayah, ya.”
“Tolong apa?”
“Ayah ada seseorang yang harus ditemui. Beliau akan memesan guci dalam ukuran banyak untuk di ekspor. Tolong Ayah untuk memberikan gambar sebagai contohnya. Ayah sudah terlanjur janji kepada orang itu. Ini sangat mendesak. Jadi tolong Ayah, Fara..”
“Iya Ayah. Nanti Fara tolong.”
Selama perjalanan menemui orang itu aku menggerutu dalam mobil. Bagaimana tidak, tempat kami bertemu adalah di kafe tempat terakhir kali aku melihat Adam. Nafasku memburu tidak karuan. Bahkan aku hampir menabrak orang menyebrang karena terlalu stres.
Kafe ini berubah. Dekorasinya menjadi semakin romantis karena di tambah lilin-lilin di setiap sudut ruangan. Cahayanya juga sedikit remang. Memberi kesan misterius tentang isi di dalam kafe ini. Aku memilih duduk di tempat yang ramai agar aku tidak terlalu mengingat Adam lagi. Klien Ayah itu rupanya sudah mengetahui aku karena Ayahn sudah menjelaskan ciri-ciriku lewat telepon. Jadi aku hanya duduk menunggu kedatangannya. Namun di tengah penantianku, tiba-tiba lampu kafe itu mati seluruhnya. Aku tidak dapat melihat apa-apa karena memang di sana terlalu gelap. Akhirnya aku hanya duduk menunggu sampai lampunya menyala lagi.
Namun sayup-sayup aku mendengar musik dari permainan biola. Musik itu lama-lama semakin mendekatiku. Aku mencoba menoleh ke belakang namun aku tidak berhasil melihat apa-apa. Sekarang musik itu semakin jelas. Aku yakin lewat instingku, para pemusik itu berada di nsekitar mejaku. Tiba-tiba aku mendengar bisikkan dari seseorang.
“Sebentar lagi kegelapan ini akan berubah menjadi terang dan bertaburan cahaya.” Itu suara pria! Dan aku merasa seperti mengenal suara itu. Pria itu mengambil posisi duduk di depanku. Apa ini Klien Ayah?
“Bagaimana kabarmu? Apa kau merindukanku?” tanyanya dalam kegelapan. Aku sangat terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang ku dengar. Suara itu.....
“Katakan kalau aku benar. Kau adam, kan?” aku mendengarnya tertawa pelan. Hampir seperti dengusan tepatnya.
“Ternyata waktu tidak berhasil menghapusku dari ingatanmu.”
“Adam!” aku meraba-raba meja mencari tangannya. Perasaanku saat itu tidak karuan. Aku dibuatnya tersentak lagi ketika ia menanyakan sesuatu yang....cukup menghujamku.
“Aku senang kau masih mengenaliku meskipun matamu tidak dapat melihatku. Apa kau masih mencintaiku?”
“Jangan bertanya seperti itu. Kau tahu aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Meskipun aku pikir kau telah pergi, entah kenapa aku menyimpan keyakinan bahwa cerita kita belum berakhir.”
“Kalau begitu, apa kau ingin mengakhirinya sekarang?”
Seketika itu juga, lampu menyala. Pandanganku masih kabur namun dengan cepat kembali normal lagi. Tanpa kuduga, di depanku terdapat sebuah kotak cincn yang terbuka. Mataku membulat saat melihat pemadangan di hadapanku. Adam dengan pakaian yang serba rapi sedang melamarku. Aku melihat sekeliling dan ternyata orang-orang yang berada di kafe itu mengelilingi kami. Dan tanpa sengaja, mataku menangkap orang-orang yang amat sangat kukenal. Keluargaku! Dan di sebelahnya ada sebuah keluarga..Australia Afghanistan?
“Do you wanna grow old with me? Will you marry me?” kata Adam dengan suara bergetar. Persis seperti saat ia menyatakan cinta kepadaku dulu.
Aku menatap keluargaku sambil tersenyum haru. Aku melihat Ayah. Ia mengembangkan senyum bahagia sambil menganggukkan kepala. Maka tanpa keraguan lagi, aku menjawab lamaran Adam.
“With all of my heart, yes.” Aku mengatakannya sambil tertawa dan menangis bahagia. Sementara Adam menundukkan kepala dan mengucap syukur berulang kali. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan memelukku erat. Pelukan yang sangat aku rindukan. Bersamaan dengan itu, seluruh pengunjung kafe bertepuk tangan menyaksikan kami. Adam menangis dan mengatakan I love you dan I miss you berulang kali.
“Terima kasih kau sudah mau menerimaku, Fara. Aku membawa seluruh keluargaku hanya untuk mendukungku melakukan semua ini..” lalu Adam melepas pelukannya. Ia meraih kedua tanganku dan menempelkannya di dadanya.
“Bagaimana ini semua bisa terjadi? Ayahku kan sebelumnya tidak menyukai hubungan kita. Lalu...”
“Aku dan Ayahmu-lah yang merencanakan ini semua. Aku ingin mencari wanita yang menghormati kedua orang tuanya. Dan ternyata aku tidak salah jika menjatuhkan pilihan kepadamu.”
“Jadi kau saat itu hanya berpura-pura patah hati saat aku memutuskanmu?” aku sedikit sebal dengan Adam. Bagaimanapun juga ia telah menyiksaku berbulan-bulan.
“Kau ingat aku pernah bilang bahwa mungkin aku tidak akan pernah bisa menikah? Ya, aku takut dengan pernikahan yang sementara. Aku ingin mempunyai pernikahan yang abadi. Bersama dengan orang yang benar-benar kucintai. Jadi, aku melakukan ini bukan tanpa sebab...”
Aku menatap Adam dengan sebal namun aku tertawa.  Kami berdua tertawa gembira sampai Adam memberikan hal yang sangat aku rindukan. Ia menarikku lebih dekat lalu setengah menunduk untuk menciumku. Aku membalas ciumannya dengan hati yang sangat bahagia. Adam benar. Kegelapan itu kini telah berubah menjadi  terang dan bertaburkan cahaya. Aku telah menemukan cinta yang sebenarnya. Begitu juga dengan Adam. Kami berdua, menjadi orang yang paling bahagia malam itu.
Dan cinta selalu benar. Ia tidak mungkin membiarkan orang yang selalu sabar menunggunya sedih. Saat waktunya tepat, ia akan datang kepada mereka yang selalu percaya keberadaannya..

Komentar

Postingan Populer