Kasih dan Sayang


Kemarau panjang tahun ini memang berbeda. Udara di Surabaya begitu menyegat saat siang hari. Aku segera memarkir motorku di pinggir trotoar. Bapak tua itu sedang mengipasi tubuhnya yang sudah renta. Sorot matanya mengikuti setiap kendaraan yang melintas di depannya.
“Assalamualaikum Pak. Gimana dagangannya hari ini?” aku mengamati barang dagangannya yang sepertinya memang masih banyak.
“Alhamdulillah Mbak. Sudah laku dua.” Beliau tersenyum ikhlas sambil menjawab pertanyaanku.
“Iya syukur lah. Saya mau ini dong, Pak.” Aku memilih-milih beberapa mainan tradisional yang akan aku bawa ke Panti. Dalam hati aku ingin menangis. Sudah jam tiga sore namun dagangan Pak Supran masih laku dua.
“Sudah ini saja, Mbak?”
“Kayaknya ini sudah cukup, Pak. Mungkin beberapa hari lagi saya mampir ke sini lagi.” Kataku seraya memberikan uang yang memang terlalu banyak untuk harga mainan tradisional. “Sudah kembaliannya disimpan aja, Pak.”
“Alhamdulillah terima kasih banyak, Mbak. Semoga mendapat balasannya.” Pak Supran menerima uang pemberianku dengan gemetaran. Usianya yang semakin tua memang telah membuat tubuhnya gemetar.
“Ya sudah saya pamit ya, Pak. Assalamualaikum.” Ketika aku hendak beranjak dari tempat Pak Supran berdagang, pandanganku tertuju pada seorang Ibu dan anaknya yang baru keluar dari tokoh mainan yang tak jauh dari sini. Anak itu menenteng mainan Play Stationnya sambil berjalan menjauh dari toko. Hatiku sangat miris melihatnya karena anak jaman sekarang tidak pernah lagi bermain mainan tradisional. Lalu mau dibawa ke mana nasib bapak-bapak penjual mainan tradisional seperti Pak Supran?
          Pak Supran sudah menjadi langgananku semenjak aku aktif dalam kegiatan bakti sosial di panti asuhan. Mungkin setiap harinya orang yang membeli dagangannya semakin berkurang. Namun orang tua itu tidak putus asa. Ia tetap berdagang demi menafkahi istrinya yang terserang penyakit kanker di kampung. Kadang aku merasa sebal karena aku tidak bisa membuat diriku berguna untuknya. Seandainya aku menjadi seorang dokter, aku pasti membebaskan pengobatan istrinya dari biaya. Aku akan berusaha membuat istrinya sembuh agar Pak Supran tak perlu lagi bekerja hingga larut malam. Di usianya yang sudah tua ini seharusnya ia dapat menikmati masa tuanya denganberistirahat. Namun karena rahim istrinya bermasalah, ia tidak mempunyai keturunan yang dapat ia andalkan ketika ia sudah tak mampu bekerja lagi.
Segerombol anak-anak langsung berlari memelukku begitu aku selesai memarkir motor. Mereka ini, beberapa dari anak-anak yang kurang beruntung, telah menjadi keluarga kecilku.
“Kakak bawa mainan yang banyak lho buat kalian. Mainnya bareng-bareng ya biar nggak ada yang berebut. Oke?” aku mengangkat tas berisi mainan tinggi-tinggi.
“Oke, Kak..!!”
“Kak kenapa nggak beliin kita mainan yang modern sih?”                                                 
“Adik-adik, kalian nggak tahu kan kenapa Kakak beliin mainan tradisional untuk kalian? Kakak pingin banget anak-anak jaman sekarang tetap mengenal mainan jaman dulu. Kan penjual mainan ini kasihan kalau kalian semua beli mainan yang sudah canggih-canggih.” jelasku sambil mempraktekkan tabrakan kedua mobil. Aku memperhatikan wajah mereka. Tampaknya semua telah mengerti dengan penjelasanku. Aku kembali teringat Pak Supran. Akan bagaimana nasib dagangannya kalau sampai anak-anak bangsa sudah benar-benar menganggap ndeso mainan tradisional?
Setelah cukup lama bermain dengan mereka, aku meminta ijin pulang. Aku selalu bersyukur setiap selesai berkunjung ke panti. Setidaknya beberapa anak yang kurang beruntung telah aku bahagiakan. Aku senang ketika melihat diriku berguna.
Dalam perjalanan aku melewati jalanan tempat Pak Supran berdagang, aku masih sempat melihat beliau duduk menunggu pembeli. Ya Tuhan, ini sudah jam tujuh. Harusnya beliau sudah beristirahat di rumahnya. Tubuh rentanya itu pasti telah menolak untuk diajak bekerja lebih lama lagi. Aku hanya bisa berdoa semoga penantiannya tidak sia-sia. Semoga para pembeli segera datang ke tempatnya.
          Seminggu telah berlalu sejak terakhir kali aku mengunjungi Pak Supran. Hari ini aku akan membeli dagangannya lagi. Namun aku sempat terkejut karena Pak Supran tidak ada di sana. Beliau meninggalkan daganannya di atas aspal jalan raya begitu saja. Aku menunggunya diatas motor. Lima menit kemudian Pak Supran muncul dengan wajah pucat. Beliau baru dari masjid setelah aku menanyainya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Dadanya naik turun. Aku mengira bahwa sepertinya orang tua ini butuh teman bercerita.
“Kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” aku memegang pundaknya yang kurus sambil menenangkan dirinya. Lalu sambil terisak, beliau pun mulai bercerita.
“Kemarin saya telepon Adik di kampung. Katanya istri saya sudah parah Mbak. Perutnya sudah semakin besar dan makan pun sudah susah. Kankernya sudah semakin menggerogoti tubuhnya, Mbak. Saya merasa bersalah atas semua itu. Karena kondisi saya yang pas-pasan, saya tidak mampu memerikasakan keadaannya sewaktu kankernya belum parah. Sekarang pun saya tidak bisa. membiayai operasinya. Saya bingung, Mbak. Apa yang bisa saya gantungkan dari jualan  mainan ini?” Pak Supran mengusap air matanya yang telah mengalir deras dengan kaosnya yang telah lusuh. Sementara aku telah berlinang air mata. Aku sangat prihatin dengan kondisi keluarganya.
“Pak, seorang penderita kanker itu memang umurnya tinggal hitungan hari saja. Sebaiknya bapak pulang saja ke kampung untuk menenmani istri Bapak. Kasihan dia kalau harus berjuang sendiri melawan penyakitnya.” Kali ini air mataku benar-benar telah mengalir.
“Saya tidak punya uang untuk pulang ke kampung. Keuntungan jualan ini saja sedikit. Kalau di pakai untuk ongkos pulang, bisa bisa saya malah tidak bawa apa-apa.”
          Aku memalingkan wajah dari Pak Supran. Bagaimana aku bisa menolongnya? Aku hanya membiarkan orang tua itu menangis. Aku mengamini setiap doa yang terucap dari mulutnya. Aku sungguh sangat ingin membantunya.
          Tiga hari setelah itu, aku kembali ke tempat Pak Supran berjualan. Aku telah membawa semua uang tabunganku untuk aku berikan kepadanya, dan untuk ongkos beliau pulang kampung juga. Namun aku sangat terkejut ketika melihat tidak ada satu pun pedagang kaki lima yang berdagang di sana. Aku segera berlari menghampiri seorang satpam toko mainan itu.
“Pak, apa yang terjadi dengan para PKL di sini?”
“Polisi sudah resah dengan para PKL yang hanya bisa membuat trotoar menjadi sumpek. Mereka menggusurnya tiga hari yang lalu” jelas Pak Satpam itu.
 “Astagfirullah!” Di mana Pak Supran? Apa yang dia lakukan setelah polisi menggusurnya? Bagaimana dengan istrinya?
Badanku langsung lemas begitu mengetahui penjelasan Pak Satpam. aku tidak bisa fokus menyetir karena terus memikirkan Pak Supran. Orang tua itu pasti sangat kebingungan dengan musibah ini. Tanpa sadar tiba-tiba aku sudah berada di depan terminal. Aku memarkir motorku karena aku ingin membeli air untuk minum. Namun tanpa sengaja mataku menangkap sosok orang tua yang mirip seperti Pak Supran. Orang tua itu terjatuh ketika hendak memasuki bis karena berdesak-desakan. Reflek aku segera berlari menghampiri orang itu. Ternyata dia memang Pak Supran! Beliau hendak pulang ke kampung karena istrinya sudah benar-benar parah. Aku memutuskan untuk ikut dengannya karena tidak sanggup melepas Pak Supran pergi sendirian.
          Disepanjang perjalanan, beliau banyak melamun. Aku terus memperhatikannya. Wajah itu seperti menyimpan beban berat sekali sehingga tidak tampak lagi cahaya kebahagiaan. Tubuhnya yang selalu gemetar tampak tak berdaya lagi. Keriput yang menutupi tubuhnya seperti memberi kode baginya untuk beristirahat. Tiba-tiba aku melihat sebutir air mata menetes di pipinya. Sementara aku sendiri sebenarnya dari tadi telah menangis dalam hati. Aku tidak ingin berbicara apa-apa. Aku hanya ingin menemani beliau di saat sedih seperti ini.
          Lima jam telah berlalu. Aku dan Pak Supran mempersiapkan diri untuk turun. Setelah kami sampai di depan rumahnya, Pak Supran langsung berlari meninggalkanku. Beliau tidak mempedulikan para tetangga yang sedang menunggunya di luar. Beliau langsung menuju kamar istrinya dan menangis tak henti-henti setelah mengetahui bahwa istrinya telah tiada. Beliau tidak sempat menemani istrinya disaat terakhirnya. Aku mendengarnya mengucap kata maaf berulang kali. Namun aku melihat wajah istrinya seperti menyiratkan kebahagiaan. Ia seperti tidak merasakan kesakitan sama sekali. Aku tahu Pak Supran telah berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan istrinya. Walau akhirnya kebahagiaan itu tidak dapat beliau berikan sepenuhnya di dunia. Melihat sosok Pak Supran yang masih bersemangat mencari nafkah walau usianya telah lanjut, aku belajar sesuatu. Membahagiakan orang lain itu tidak harus ada wujud konkretnya. Mungkin Pak Supran bisa lebih membuat istrinya bahagia disana dengan mendoakannya. Aku yakin beliau mampu untuk itu. Dan aku juga yakin, doanya pasti sampai kepada istrinya karena Tuhan telah menilai Pak Supran lewat apa yang telah diperbuatnya selama ini. Tuhan sayang kepadanya. Mungkin nanti, pasangan suami istri ini pasti bisa menyatu di surga. Tempat dimana mereka seharusnya berada.

Komentar

Postingan Populer