Hal Istimewa yang Hilang
Tangan kami saling bersentuhan saat dia dan aku akan
mengambil kanvas itu. Aku menatap wajahnya secara tidak sengaja. Untuk beberapa
detik aku hanya terdiam memandangi pemandangan indah yang ada di hadapanku.
“Oh, maaf.” Katanya sambil melepaskan tangannya dari
kanvas itu.
“Nggak papa kalau mau ngambil ini silahkan saja.”
Entah kenapa tiba-tiba aku yang tadinya sangat membutuhkan kanvas itu menjadi
mau memberikan kepada orang yang belum kukenal.
“Aku bisa cari di tempat lain. Kamu bisa ambil ini.” Dia
menyerahkan kanvas yang sedari tadi hanya diam di atas rak.
“Oh, ya udah aku yang ambil.”
Kemudian
kami terlibat dalam suatu obrolan santai. Aku memang membutuhkan kanvas itu
untuk ujian praktek melukis dan ternyata dia juga membutuhkannnya untuk hal yang
sama. Namanya Kent. Dia sangat mahir melukis dan mencintai musik. Aku merasa
aku telah menyukai Kent pada saat itu juga.
Ujian
nasional sudah tinggal beberapa minggu lagi. Kent sering datang ke rumahku
untuk membantuku belajar sekaligus mengajakku jalan-jalan agar aku merasa lebih
rileks menghadapi ujian. Kent memang baik. Dia mengajakku berkeliling kota,
bahkan ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Aku sangat
bahagia berada di dekatnya. Ternyata aku memang membutuhkan Kent di saat-saat
seperti ini.
Seminggu
ini semua siswa disekolahku disibukkan oleh ujian Nasional. Pada hari-hari
akhir ujian, aku dikejutkan oleh surprise kecil dari teman-temanku. Mereka
berpura-pura membolos pada hari terakhir ujian. Maka jadilah aku mengerjakan ujian
sendiri di kelas. Begitu bel berbunyi, teman-temanku langsung datang sambil
menyanyikan lagu Happy Birthday. Mereka tidak benar-benar membolos, tapi mereka
mengerjakan ujian di suatu ruangan khusus.
Kent
datang kerumahku pukul tiga sore. Aku tidak membuat janji dengannya sebelumnya,
jadi saat dia tiba di rumahku aku sedikit terkejut namun aku segera mengajaknya
masuk.
“Aku senang
kamu ke sini. Kok mau datang nggak bilang-bilang? Aku kan bisa dandan yang
cantik dulu..”
“Ini kan kejutan. Lagian bagiku setiap saat kamu itu
cantik.” Kent mengusap lembut rambutku. Membuatku seperti orang yang paling
senang di dunia.
“Bisa kita ke atap? Ada sesuatu yang spesial buat
kamu.” Tanyanya. Aku menggandeng tangannya lalu berjalan menuju atap. Kent
memang tahu bahwa aku mempunyai atap rumah yang dapat digunakan untuk
bersantai.
“Happy Birthday Katy!” Kent menunjuk sebuah lukisan
besar yang bersandar. Itu aku dan Kent. Di sana terlukis Kent sedang
melingkarkan tangannya ke bahuku, sementara tangan satunya memegang sebuah kue
tart berbentuk hati.
“Kaget ya? Aku titip ini ke Mama kamu kemarin malam.
Aku suruh beliau taruh lukisan ini di sini.”
“Kent, aku..aku seneng banget! Ini bagus, menakjubkan
dan…begitu romantis.”
“Aku masih punya yang lain.” Kent mengeluarkan sebuah
kotak yang entah apa isinya. Dia terlihat sibuk menyiapkan satu alat agar siap
digunakan.
“Apa itu?”
“Sini..” Kent meraih tanganku dan menyingsingkan
lengan bajuku. Aku baru tahu bahwa dia akan membuat sebuah tatoo di lenganku.
Aku memperhatikannya menggambar, ternyata Kent menggambar separuh hati.
“Coba lihat ini..” Kent menyingsingkan lengan bajunya
dan..ternyata dia memliki tatoo bergambar hati yang separuhnya. Dia menempelkan
lengannya ke lenganku. Maka terbentuklan sebuah hati yang sangat indah dan begitu
bermakna. Kent tersenyum sangat lama sambil membaca satu per satu ekspresi yang
muncul di wajahku. Pipiku menjadi merah merona. Aku tertawa kecil sambil
melempar tatapanku ke rumah-rumah penduduk di bawah.
“Kent, maksih ya. Aku benar-benar suka ini semua. Aku
bahagia. Maksih Kent..”
Dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya lalu mengecup
rambutku. “Ijinkan aku jadi orang yang selalu membuat kamu bahagia.” Katanya
berbisik. Aku mengangguk pelan dalam dekapannya.
“Oh ya, ujiannya gimana?” Kent melepas pelukannya dan
kami pun memulai obrolan santai.
“Lancar. Kamu sendiri?”
“Lumayan. Mungkin masih diatas rata-rata.” Dia tertawa
kecil, membuatnya tampak begtu manis.
“Cita-cita kamu apa Kent?”
“Terserah kamu.”
“Kok terserah sama aku?”
“Emang kamu mau jadi apa?”
“Aku mau jadi composer. Terus, mendirikan kursus
music. Aku cinta music, aku pengen orang-orang di seluruh dunia bisa nikmati
karyaku. Kalau kamu, Kent?”
“Aku pengen jadi orang yang menginspirasi kamu
menciptakan sebuah lagu. Aku pengan jadi orang yang ada di dalam lagumu.”
Kami tertawa bersama sambil terus membicarakan masa
depan. Begitu asik, seolah-olah aku tidak akan pernah kehilangannya.
Seolah-olah aku akan terus bersamanya seumur hidup. Itu inginku, aku berhak
berharap dan bermimpi.
Kent
mengeluarkan dua botol miras dari dalam tasnya. Dia menoleh sebentar kepadaku
sebelum membuka botolnya.
“Aku curi dari orangtuaku. Ini untuk merilekskan
pikiran kita setelah ujian.” Kent menyodorkan sebotol ke arahku sambil
tersenyum. Awalnya aku ragu, tapi melihat tatapan Kent yang sangat menginginkan
aku mencobanya, maka aku menenggak isi botol itu.
Kami
tertawa keras membahas hal-hal yang lucu. Ini yang aku suka dari Kent. Dia bisa
menjadi begitu humoris di saat yang tepat dan bisa menjadi serius di saat
tertentu. Kent pintar, tapi aku tidak begitu yakin dengan ujiannya tadi. Kami
membuat rekaman sederhana tentang kebersamaan itu. Kami mengucap janji bahwa
tidak ada yang dapat memisahkan kami kecuali maut.
* * * * *
Aku
telah menjadi mahasiswi sebuah fakultas kesenian. Sudah banyak lagu-lagu
ciptaanku yang dinyanyikan oleh penyanyi terkenal. Aku sendiri menolak untuk
menjadi penyanyi. Aku hanya bernyanyi untuk hidupku dan diriku sendiri. Tentang
Kent…..ah sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Dia bilang dia akan pergi ke
luar negeri untuk kuliah di sana. Kent mendapat beasiswa karena prestasinya
dalam melukis.
“Aku pikir
ini jalanku. Maaf, aku harus pergi.”
“Tapi Kent,
apa kamu akan kembali?”
“….”
“Kent?”
“Nggak tahu.”
Terkadang
jika aku merindukannya, aku memutar rekaman kami yang kami buat di atap saat
hari ulang tahunku ke-18. Dadaku terasa sesak saat mendengar janji kami. Kita akan terus bersama. Nggak ada yang bisa
memisahkan kecuali maut. Kita akan saling mencintai selamanya. Air mataku
selalu jatuh saat menyaksikan rekaman itu. Dimana
kamu, Kent? Apa kamu lupa sama aku? Aku tidak tahu lagi bagaimana hidupnya.
Sukses-kah dia? Bagaimana hidupnya
sekarang? Apakah dia sudah mencintai orang lain? Aku tidak pernah menemukan
jawaban dari semua tanyaku. Sampai akhirnya, suatu hari aku dengar dari
seseorang bahwa Kent-ku telah
menghapus tatoonya. Bagiku itu lebih dari cukup. Itulah jawaban yang
sebenarnya. Kent telah melupakan aku dan telah memasukkan aku ke daftar masa
lalunya. Tanpa sadar, tanganku menari diatas kertas putih yang berada di atas
meja. Aku akan mengabulkan keinginan Kent. Kata demi kata aku rangkai hingga
menjadi sebait lirik. Tanganku tak sanggup berhenti menulis. Kulihat kertasku
yang tadinya kering sekarang menjadi basah dan hampir penuh. Aku menghentikan
kegiatanku dan beranjak meraih teleponku.
“Pak Adam,
saya ingin perform di acara ulang tahun kampus.”
“Mengiringi
atau mau menyanyi sendiri?”
“Menyanyi.”
* * * * *
Aku sedang berdiri di panggung dengan sebuah gitar di
tanganku. Hari ini untuk pertama kalinya, aku menginginkan semua orang tahu dan
ikut merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Aku tidak peduli akan seperti apa
emosiku saat menyanyikan lagu itu. Aku hanya berdoa dalam hati kemudian mulai
memetik gitarku dengan percaya diri.
We'd
make out in your mustang to Radiohead
And on
my 18th birthday we got matching tattoos
Used
to steal your parents liquor and climb to the roof
Talk
about our future like we had a clue
Never
planned that one day I'd be losing you
In
another life I would be your girl
We'd
keep all our promises
Be
"us" against the world
In
another life, I would make you stay
So
I don't have to say
You
were the one that got away
I was June and you were
my Johnny Cash
Never one without the other, we made
a pact
Sometimes when I miss
you, I put those records on
Someone said you had your tattoo removed
Someone said you had your tattoo removed
Saw you downtown, singing
the blues
It's time to face the
music, I'm no longer your muse
All this money can't buy me a time machine
All this money can't buy me a time machine
Can't replace you with a
million rings
I should have told you
what you meant to me
Cause now I pay the price
Komentar
Posting Komentar